Piala Thomas & Uber 2026: Tim Thomas Terhenti di Fase Grup

Horsens, 28 April 2026

Group D – Matchday 3: Indonesia 1-4 Prancis

MS1: Jonatan Christie vs Christo Popov 19-21, 14-21
MS2: Alwi Farhan vs Alex Lanier 16-21, 19-21
MS3: Anthony Sinisuka Ginting vs Toma Junior Popov 22-20, 15-21, 20-22
MD1: Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani vs Eloi Adam/Leo Rossi 19-21, 19-21
MD2: Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri vs Christo Popov/Toma Junior Popov 21-18, 19-21, 21-11

Jonatan Christie:
Masuk tadi sih sebenarnya overall sudah oke. Dari terakhir lawan Kunlavut, coba untuk recovery secepat mungkin. Dari segi fisikal semuanya baik tapi mungkin memang sedikit terhambat di bagian lowernya. Tapi saya sudah melakukan yang terbaik, untuk recovery juga sangat baik.

Di gim pertama sudah mencoba untuk mengikuti ritme permainan dia dan beberapa kali tadi juga sempat bisa untuk menyamakan kedudukan, tapi hari ini banyak melakukan kesalahan sendiri yang membuat dia motivasinya kembali dengan lebih semangat. Padahal tadi sudah bisa take over poinnya.

Disayangkan memang di gim pertama harusnya itu modal yang cukup bagus. Tapi ketika lepas, momentumnya itu yang harus dibangun lagi dan tidak mudah dengan kondisi yang ada juga. Selain itu, Christo juga bermain cukup baik hari ini, dari defense-nya, dari lebih sabarnya juga.

Saya minta maaf karena tidak bisa memberikan poin untuk tim Indonesia. Saat ini kami tertinggal tapi saya berharap, teman-teman tidak terpengaruh dengan hal tersebut.

Alwi Farhan:
Karena memang sekarang posisinya kamu juga membutuhkan kemenangan, rasa itu cukup menghantui saya. Dan saya lebih merasakan pressure.

Hari ini tidak terlalu berbeda pola yang diterapkan lawan tapi dia powernya sangat besar ya, jadi antisipasinya tadi saya beberapa kali lepas. Dia banyak mendapatkan poin dari situ, saya harus perbaiki untuk ke depan.

Anthony Sinisuka Ginting:
Memang sudah sangat dipersiapkan pertandingan ini, maksudnya waktu dipilih jadi main di tunggal ketiga dan sudah tahu juga kurang lebih calon-calon lawannya siapa. Ada diskusi juga dengan tim tunggal putra untuk menambah buat insight. Karena mungkin Jonatan juga pernah lawan, yang lain mungkin pernah nonton Toma seperti apa. Jadi memang sama-sama memberikan point of view-nya masing-masing. Itu yang sudah dipersiapkan dan sebenarnya sudah cukup bisa menerapkan strategi dengan baik.

Kuncinya di gim kedua ketika Toma mulai mengubah pola permainan dan saya ikut masuk ke pola permainan dia. Lalu di gim ketiga bisa menemukan ritme lagi, sempat unggul di interval. Tapi ya menjelang akhir ada keserimpet yang membuat kakinya sedikit kram. Kendala yang dirasakan itu coba tidak dirasakan, terus coba karena saya melihat masih ada kesempatan. Dia pun terlihat ada tegang dengan beberapa kali melakukan kesalahan sendiri.

Tapi memang tidak banyak pilihan pola permainan yang bisa saya mainkan jadi ketika dia kembali menemukan ketenangannya, saya mulai kesulitan dengan banyak harus berlari mengejar bola.

Sejujurnya tidak ada tegang yang besar saat masuk lapangan karena memang semua di tunggal peluangnya 50-50. Dengan peringkat mereka yang lebih tinggi di atas kertas memang jadi tantangan dan itu yang saya pikirkan. Tidak mau berpikir match pertama seperti apa, match kedua seperti apa. Saya mau coba challenge diri saya sendiri tadi di lapangan. Apa yang sudah dilatih di Jakarta, di training camp, apa yang sudah dipersiapkan coba buat diterapkan tanpa fokus ke skor besarnya.

Sabar Karyaman Gutama:
Kami sudah mencoba untuk mengeluarkan yang terbaik di gim tadi. Tapi kami harus akui bahwa Prancis bermain sangat baik, sangat percaya diri. Kami pernah bertemu mereka dua kali dan hari ini permainannya jauh berbeda dari dua pertemuan itu.

Mereka mempunyai kepercayaan diri, di tiga pertandingan awal mereka sudah menang dan itu membuat asa yang tinggi. Sebaliknya kami berdua tidak bisa kontrol tekanan itu. Ini menjadi pembelajaran berharga buat kami berdua untuk ke depannya dan mudah-mudahan tim Indonesia bisa kembali dengan lebih kuat.

Pelajaran dan pengalaman besar buat kami bagaimana untuk mengontrol tekanan di turnamen beregu seperti ini. Tidak mudah apalagi dengan kondisi tim yang sedang tertinggal.

Moh Reza Pahlevi Isfahani:
Mereka tadi sempat ketinggalan, habis itu menyamakan kedudukan. Dari situ permainan mereka semakin menjadi, semakin percaya diri. Itu membuat kami terus tertekan di akhir gim pertama. Gim kedua kami sudah mencoba dari awal sampai akhir tapi tidak bisa mengembalikan keadaan. Kami mohon maaf tidak bisa menyumbang poin yang sangat penting hari ini. (*)

Leave a Reply