
BATC 2026: Epic Comeback Tim Beregu Putra!
Qingdao, 5 Februari 2026
Men’s Team – Group D – Matchday 2
Indonesia 3-2 Malaysia
MS1: Moh Zaki Ubaidillah vs Justin Hoh 16-21, 19-21
MD1: Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana vs Junaidi Arif/Roy King Yap 13-21, 21-12, 13-21
MS2: Prahdiska Bagas Shujiwo vs Eogene Ewe 21-12, 14-21, 21-15
MD2: Raymond Indra/Nikolaus Joaquin vs Chong Hon Jian/Haikal Muhammad 16-21, 21-11, 21-19
MS3: Anthony Sinisuka Ginting vs Kong Wei Xiang 21-17, 13-21, 21-16
Moh Zaki Ubaidillah:
Pertama saya mau ucap syukur alhamdulillah sudah bisa bermain dengan lancar, tanpa cedera. Di pertandingan hari ini, adaptasinya belum maksimal dengan lapangan. Agak kaget dengan kondisinya karena saya belum sempat tes lapangan. Selain itu, Justin terus mempercepat tempo dan pukulan colongannya cukup menyulitkan.
Ini pertama kali saya jadi tunggal pertama di level senior. Pasti ada beban yang saya rasakan tapi saya banyak belajar dari pertandingan hari ini. Kalau diturunkan lagi, saya harus bisa memikul tanggung jawab tersendiri, ya harus bisa membuka jalan untuk tim supaya partai berikutnya tuh lebih enak lah istilahnya.
Saya juga dari segi fokus sama tempo permainannya yang harus lebih ditingkatkan lagi. Karena mungkin tadi agak sedikit kaget dengan tempo permainan lawan.
Leo Rolly Carnando:
Mainnya enggak cukup normal di gim pertama, di gim kedua sudah lumayan membaik bisa memberi perlawanan tapi di gim ketiga kembali kami tidak bisa mengeluarkan yang terbaik. Mungkin emosi dan nafsu kami masih terbawa dari juara Thailand Masters kemarin, masih terlalu menggebu-gebu tapi akhirnya kurang terkontrol. Kami harus bisa atur tempo lagi. Mereka juga performanya cukup baik, main cepat panjang dan safe, sementara kami banyak melakukan kesalahan sendiri.
Bagas Maulana:
Kami memohon maaf belum bisa menyumbang poin. Semoga wakil selanjutnya bisa mengambil poin, ini belum selesai dan masih ada harapan.
Prahdiska Bagas Shujiwo:
Alhamdulillah, hari ini dikasih kelancaran tanpa cedera apapun, alhamdulillah bisa menyumbang poin buat hari ini.
Di gim pertama saya lebih mengontrol keadaan, saya bisa mengendalikan permainan tapi di gim kedua setelah sempat unggul 14-13, saya sempat ngeblank dan hilang fokus. Sempat sedang rally, kapalan di kaki saya pecah jadi ngambil transisi kanan itu takut-takut, jadi agak ragu-ragu.
Di gim ketiganya saya bisa maksa dan bisa menang. Dari start awalnya nggak boleh ketinggalan karena sudah momen krusial, harus pegang terus lah istilahnya. Pokoknya saya yakin sama diri saya kalau saya lebih kuat dari dia.
Masuk lapangan sempat gugup tapi saya ingat pesan pelatih, pesan A Ginting juga dan senior-senior lain untuk tidak usah memikirkan poin, fokus saja dan lepas saja mainnya. Senang bisa menyumbang poin untuk Indonesia.
Raymond Indra:
Ini pertandingan pertama saya setelah sekian lama tidak main beregu, terakhir di WJC 2022 jadi agak berbeda rasanya. Selain itu, belum tes lapangan setelah dari Thailand jadi agak kagok tadi main pertama kali.
Di akhir gim ketiga lebih konsentrasi lagi saja soalnya poin kritis itu paling penting, fokus satu poin-satu poin.
Nikolaus Joaquin:
Puji Tuhan tadi bermain sangat lancar, tidak ada cedera. Saya rasa permainan kami bisa dibilang cukup all out. Memang di gim pertama kami banyak kehilangan poin, kami membuang terlalu banyak. Mungkin permainannya ramai tapi kami kurang bisa tenang pas di rally-rally panjang. Di gim kedua mencoba mengganti plan dengan cara lebih bermain agresif dan ya puji Tuhan bisa ambil. Di gim ketiga memang sudah kejar-kejaran, sempat ketinggalan. Tapi kami lebih yakinin satu sama lain aja bahwa kami tuh bisa.
Kalau tertekan, ada mungkin tapi saya sudah pernah berada di situasi penentuan seperti ini di beregu dulu. Jadi seperti flashback bagaimana untuk bisa lebih tenang. Berusaha untuk menyumbang poin.
Anthony Sinisuka Ginting:
pertama-tama mengucap syukur. Puji Tuhan bisa menyelesaikan match tanpa cedera. Seluruh tim juga bermain dengan baik hari ini. Memang laga ketat 3-2 lawan Malaysia.
Tadi penentu di tunggal putra terakhir, Puji Tuhan bisa mengamankan posisi sebagai juara grup.
Karena tampil di partai terakhir, partai penentuan jadi pasti saya maupun lawan sama-sama mengalami tekanan yang sama.
Setelah unggul di gim pertama, saya terlalu banyak melakukan kesalahan sendiri. Terus lawan juga kan sudah punya strategi yang baru. Saat ngadu di situ kurang telaten sedikit.
Gim ketiga coba buat ubah lagi cara mainnya dan bisa berhasil.
Kalau dari secara keseluruhan ranking kan saya memang jadi tunggal ketiga di sini, lalu nanti tidak tahu siapa yang akan dipilih ke Piala Thomas tapi semua pasti sama menjadikan ajang ini sebagai simulasi jelang ke sana.
Jadi tunggal pertama atau ketiga secara tekanan sama tapi ada beda sedikit untuk pola pikirnya. Kalau pertama kan sebagai pembuka jalan, kalau tunggal ketiga bisa jadi laga penentu. (*)