
Kejuaraan Dunia 2025: Jonatan dan Alwi Ke 32 Besar, Ginting Belum Beruntung
Paris, 26 Agustus 2025
MS-R64: Jonatan Christie (INA) (5) vs Matthias Kicklitz (GER) 21-15, 21-5
Jonatan Christie:
Hari ini agak berbeda dari waktu latihan terutama shuttlecock nya, pada saat latihan berat banget tetapi hari ini cukup laju, itu yang membuat saya masih mencari-cari dari lob, angkat depan, kayak masih mencari feeling pukulan di awal game tadi.
Untuk ke depannya saya mesti memperhatikan faktor non teknis karena lawan akan semakin berat dan harus bermain step by step aja buat masuk ke on court nya, belajar dari Olimpiade dari tahun lalu juga.
Situasi lapangan juga berbeda dari Olimpiade, kalau di Olimpiade tuh terang banget sampai kelihatan penonton yang di atas, kalo yang sekarang di tempat penonton gelap seperti layaknya pertandingan BWF lainnya.
MS-R64: Alwi Farhan (INA) vs Nguyen Hai Dang (VIE) 22-20, 21-13
Alwi Farhan:
Partai pertama selalu tidak mudah dan lawan juga tidak mudah dimatikan tadi tetapi saya juga ada melakukan perubahan permainan yang pas dan lebih sabar, yang akhirnya bisa mengubah keadaan dan membuat saya menang. Awal game tadi lawan sudah langsung in permainannya dengan serangan dan juga transisinya bagus, mainnya lebih rapi, ditambah kondisi angin yang agak sedikit susah dikontrol, itu yang membuat saya banyak melakukan kesalahan sendiri.
Pertemuan selanjutnya dengan Lin Chun Yi, pemain yang bagus juga, saya sudah pernah bertemu di Australia Open 2024, sudah match poin 20-16 tapi belum bisa menuntaskan dengan baik. Ya saya ingin melihat diri saya bisa sejauh mana di Kejuaraan Dunia ini. Yang penting besok saya masuk lapangan sudah harus in dari awal terutama dari pikiran dan fokusnya.
MS-R64: Anthony Sinisuka Ginting (INA) vs Toma Junior Popov ( FRA) 18-21, 21-19, 23-25
Anthony Sinisuka GInting:
Kalo dari segi permainan sudah sama sama tau harus main gimana, harus ngadu kayak gimana, cuman di game pertama setelah interval 11, Toma ada berubah main sedikit dan saya kurang siap jadi banyak mati-mati sendiri. Game kedua saya sudah lebih siap dengan perubahan mainnya, walaupun secara permainan tetap berimbang saya bisa memenangkan game kedua.
Game ketiga pun sebenarnya sama, poin-poin nya selalu ketat dari awal game, tapi pas akhir game saya memang lebih mempercepat permainan dan menyerang dan ada moment di match poin 20-19 saya terpeleset dan merasa sedikit kram di kaki kiri. Jadi setelah itu saya mesti cari permainan yang tepat untuk bisa memenangkan pertandingan.
Dari pertandingan-pertandingan yang sudah saya jalani mulai dari Jepang, China dan Kejuaraan Dunia ini saya merasa tidak ada kendala atau merasakan sakit dengan tangan saya, cuman ya tetap harus ada maintenance. Tinggal sekarang bagaimana saya mengembalikan turnamen feeling yang tentunya sangat berbeda di pertandingan dan latihan, kayak tadi ngadu strategi dan mental di lapangan pertandingan. (*)