(India GP Gold) Perjuangan Linda, Mulai dari Cedera Hingga Hadiah Hari Ibu
(Jakarta, 27/12/2012) Linda Wenifanetri menutup tahun 2012 dengan prestasi. Pebulutangkis tunggal putri ini memboyong gelar juara dari India Open Grand Prix Gold 2012 setelah menumbangkan Sindhu P.V dalam permainan rubber game, 21-15, 18-21, 21-18. Dalam perjuangannya meraih gelar tunggal putri grand prix gold pertama bagi Indonesia di tahun ini, Linda ternyata melalui berbagai ujian, simak penuturannya pada wawancara berikut ini.
Selamat atas kemenangan Linda, bagaimana perasaan Linda setelah menjadi juara di India?
Terima kasih, saya sangat bersyukur akan gelar ini. Bisa meraih kemenangan tentunya ada rasa bangga, tapi tidak mau berlarut-larut dalam kesenangan. Masih banyak tugas menanti di 2013. Satu hal yang pasti, kemenangan ini membuat saya semakin percaya diri.
Apa kunci kemenangan dan motivasi Linda dalam memenangkan gelar ini?
Tidak ada sesuatu yang spesial, yang penting main dengan pola yang benar, usaha mati-matian di lapangan dan atur mindset bahwa saya bisa.
Perjalanan Linda ke final tak bisa dibilang mudah, di babak awal Linda sempat bermain sengit melawan pemain-pemain tuan rumah?
Ya betul, mungkin karena pertandingan pertama jadi saya masih melakukan penyesuaian. Di babak kedua lawan saya memiliki tipe permainan rally juga, jadi adu kekuatan dan ketahanan. Pokoknya harus lebih kuat dan tahan dari lawan, ternyata saya bisa melewati mereka.
Linda beberapa kali bermain rubber game bahkan sampai deuce, bagaimana soal stamina di lapangan?
Kalau dibilang lelah ya pasti lelah, tapi saya atur pola pikir di lapangan bahwa bukan saya saja yang lelah, lawan juga pasti lelah. Jadi sama-sama lelah ya pintar-pintar saja atur strategi di lapangan.
Di final Linda berhadapan dengan andalan tuan rumah, apakah ada rasa gentar bermain di tengah pendukung lawan?
Tidak juga, saya tidak terbebani sama sekali karena lawan rangkingnya lebih tinggi dari saya. Kemarin saya bisa bermain lepas.
Selain itu saya ingin sekali menang, sudah susah payah sampai final maka harus berjuang mati-matian. Ketika melawan Okuhara saya sempat mengalami kondisi yang kurang fit. Saat itu kedua telapak kaki kanan dan kiri saya sedang kapalan yang cukup parah. Saat bermain ternyata kapalannya pecah semua dan ketika minta izin wasit dan buka sepatu, kaki saya sudah berlumuran darah dan rasanya perih sekali, apalagi kalau dipakai untuk menapak. Saya sempat bilang sama pelatih kalau perihnya tak tertahankan tapi pelatih terus menyemangati. Saat itu saya berpikir saya tak mau menyia-nyiakan perjuangan saya, akhirnya saya tahan sakitnya dan terus bermain hingga menang.
Selain itu, saya juga ingin sekali memberikan hadiah hari ibu untuk mama saya. Saya persembahkan kemenangan ini untuk mama yang selalu mendukung karir bulu tangkis saya, beliau sangat senang dan bangga atas hadiah gelar juara ini.