(Olimpiade London) Tontowi/Liliyana Akui Sulit Keluar Dari Tekanan

 

(London, 3/8/2012) Penampilan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di pertandingan perebutan medali perunggu Olimpiade London 2012 sangat disayangkan. Keduanya tampil antiklimaks jika dibandingkan babak-babak sebelumnya, hingga akhirnya harus gagal mempersembahkan medali untuk cabang bulu tangkis.
 
Tekanan yang bertubi-tubi yang dibebankan kepada mereka menjadi faktor utama penyebab keduanya tak dapat tampil maksimal pada siang ini. Pasangan Indonesia ini harus menyerah dalam dua gim langsung atas Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen dengan skor 12-21, 12-21.
 
“Target emas gak dapat, perunggu pun tidak dapat, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Sebagai atlet kami tidak mau kalah dan sudah berusaha semampu kami. Meskipun kami kecewa, kami harus menerima kenyataan ini” ujar Liliyana.
 
Bagi Liliyana yang sudah dua kali ikut olimpiade, ia mengaku dapat bermain lebih enjoy, apalagi empat tahun lalu ia sudah pernah mengecap rasanya naik podium olimpiade dan meraih medali perak bersama Nova Widianto. Namun berbeda bagi Tontowi, ini adalah olimpiade kali pertama baginya.
 
“Tontowi masih muda dan beban ini terlalu berat baginya. Pada nomor ganda campuran, peran pemain putra lebih dominan dibanding putri, kalau dia bingung dan tak dapat berbuat banyak, akan berat untuk kami” tambah pemain yang juga merupakan Juara Dunia 2005 dan 2007 bersama Nova Widianto.
 
Liliyana juga bercerita sedikit tentang apa yang terjadi di lapangan pada pertandingan melawan ganda Denmark tadi. Ia mengatakan bahwa memang biasanya ia banyak berkomunikasi dengan Tontowi dan tadi sempat mengajak Tontowi untuk bermainlah se-enjoy mungkin, agar Tontowi mengerahkan seluruh kemampuannya, hasil itu belakangan.
 
“Karena mau bicara evaluasi atau apa juga sudah tidak bisa dilakukan di lapangan, dari pandangan Tontowi saja sudah terlihat kalau dia terbebani sekali. Gerak-gerik dan langkahnya di lapangan sudah berbeda sekali, jadi mau bahas soal teknik sudah tidak ada pengaruhnya, tidak akan masuk” ucapnya lirih.
 
Pemain putri asal klub PB Tangkas Specs ini juga mengungkapkan bahwa dirinya dan pelatih hanya membantu dan tidak dapat berbuat banyak, karena tekanan itu ada di dalam diri Tontowi dan bagaimana dia mengatur dirinya sendiri.
 
“Untuk kedepannya, khususnya Tontowi, kegagalan ini bisa menjadikan ini sebagai pengalaman yang berharga. Dia masih muda, semoga di pertandingan lain atau bahkan olimpiade selanjutnya, ini tidak akan terulang lagi” tambahnya.
 
Tekanan hebat mulai dirasakan pasangan andalan Indonesia ini sejak babak perempat final dan sudah mulai diterapkan sistem knock-out atau sistem gugur. Kala itu mereka harus menghadapi pasangan Jerman, Michael Fuchs/Birgit Michels.
 
“Kami aku