(Asia Junior Championships) Reuni Imam Tohari dan Mantan Anak Didiknya
(Kota Kinabalu, 6/7/2013) Meskipun sudah enam bulan lamanya Imam Tohari tak lagi melatih tim junior Jepang, namun anak-anak didiknya seolah tak bisa lepas dari sosok pria yang sudah 10 tahun melatih di negeri Sakura tersebut.
Seperti yang terlihat pada sesi latihan hari kedua di Likas Indoor Stadium, Imam yang sedang melatih tim tunggal putra di Asia Junior Championships 2013 tiba-tiba dihampiri tiga pemain-pemain muda Jepang yang berlari dengan penuh semangat dari pintu masuk.
Mereka adalah Aya Ohori, Yugo Kobayashi dan Hoki Takuro, ketiganya kemudian asyik bercerita bersama Imam yang ternyata sangat fasih berbahasa Jepang. Bahkan mereka juga tak menyia-nyiakan momen tersebut dengan berfoto bersama.
“Saya sudah melatih mereka dari kecil, seperti Aya yang saya latih sejak dia duduk di Sekolah Dasar (SD). Mungkin mereka sudah menganggap saya seperti orang tua sendiri” ujar Imam.
“Tadi Aya bertanya kepada saya apakah saya akan mendampingi pemain Indonesia kalau melawan Jepang. Saya jawab ‘iya’. Lalu dia bertanya lagi apakah saya akan mendampingi pemain tunggal putri juga. Kalau ia diturunkan, Aya mungkin merasa grogi karena saya mantan pelatihnya. Tadi sambil bercanda dia bilang sama saya, kalau saya kan pelatih tunggal putra, jadi harusnya mendampingi tunggal putra saja, ha ha ha”.
Indonesia memang berpeluang untuk berjumpa dengan Jepang di babak perempat final. Jepang dan Thailand kemungkinan akan merajai grup C dan berhadapan dengan Indonesia atau Malaysia yang juga punya kans besar di grup A.
Imam pun kemudian bercerita tentang pengalamannya selama satu dasawarsa menjadi pelatih di Jepang. Setelah keluar dari Pelatnas Cipayung pada tahun 2000, dua tahun kemudian ia menerima tawaran dari Jepang untuk melatih di Kyushu International University di Fukuoka. Selama lima tahun, Imam melatih para pelajar disana, termasuk Reiko Shiota, mantan pemain ganda campuran andalan Jepang.
Setelah itu, Imam menerima pinangan Tomioka Badminton Club dan lima tahun menjadi Kepala Pelatih. Pada saat World Junior Championships 2012 di Chiba, Jepang, Imam kemudian mendapat tawaran dari Rexy Mainaky yang menjabat sebagai Kabid Binpres PBSI untuk kembali ke Tanah Air dan menangani sektor tunggal putra.
“Keberhasilan Kento Momota jadi juara dunia junior adalah sejarah pertama bagi Jepang. Makanya banyak atlet dan orang tua atlet yang menyayangkan kepulangan saya ke Indonesia. Mereka sempat menahan saya supaya terus melatih di Jepang. Begitu juga komite olahraga di Jepang. Saya sampai ditawari jadi warga negara” ungkap Imam.
Namun tawaran tersebut terpaksa ditolak Imam yang dalam hati kecilnya ingin kembali ke Indonesia. Ia merasa tertantang untuk melatih di Indonesia yang kala itu prestasinya sedang menurun.
“Selain ingin kembali ke Indonesia, saya juga tertantang ingin berkarya. Selama melatih dari April 2013 lalu, saya merasa para pemain sudah banyak perubahan. Mungkin belum kelihatan dari prestasi, tapi di latihan sudah kelihatan bedanya. Sekarang lebih ada gregetnya, sudah punya visi misi mau kemana” ujar Imam.